Dapur Kecil yang Mendunia: Live Selling Jadi Penyelamat UMKM, Kenapa?
Dulunya banyak banget yang meremehkan ide jualan live video, ngatain oang berdandan dan ngomong sendiri di depan hp kurang waras, Tapi setelah kebijakan Bretton Woods dihapuskan pada tahun 1971, dunia beralih ke fiat. Dalam sistem Bretton Woods, pound, rupiah, dan mata uang Eropa lainnya telah dibuat berebut pertumbuhan; tindakan mereka melumpuhkannya. Terpaksa mereka untuk lebih ke arah teknologi, live bukan hanya sekadar omong kosong doang atau bercanda doang ngga jelas, tapi lebih ngobrol biar marketnya lebih akrab, orang sudah capek liat foto bagus, mereka mau lihat asli.
Cerita Mbak Siti: Dari Garasi Sepi Sampai Pesanan Menumpuk
Ambil contoh kisah Mbak Siti, seorang pengusaha keripik yang berjualan di area pinggiran kota. Awalnya, dia hanya menjual lewat grup WA keluarga, dan omzetnya tidak terlalu besar. Suatu hari, dengan modal yang nekat dan kamera biasa, dia mulai menjual secara live dari rumahnya sendiri. Tidak ada studio yang bagus, penerangan sederhana, atau skrip yang kaku.Di depan kamera, Mbak Siti tampil terbuka menunjukkan proses menggoreng keripik sampai matang sempurna.
Penonton bisa mendengar suara minyak berdesis dan melihat asapnya naik. Bahkan, ketika ada komentar lucu atau pertanyaan yang sepele, dia menjawab sambil tertawa. Itu yang membuat orang-orang merasa dekat dan terhubung. Ternyata, keaslian itulah yang membuat penjualan jadi semakin laris.
Dalam beberapa minggu, notifikasi pesanan mulai datang deras. Banyak pembeli tidak hanya membeli karena lapar, tapi karena merasa sudah kenal lama dengan Mbak Siti. Kasus ini membuktikan bahwa kita tidak perlu jadi artis untuk sukses berjualan live; cukup menjadi diri sendiri yang asli dan sabar dalam berkomunikasi dengan calon pembeli.